Home Wawasan Energi dan Sumber Daya Amin Tampubolon : Unsur Tanah Jarang Enam Kali Lebih Melimpah dari Emas

Amin Tampubolon : Unsur Tanah Jarang Enam Kali Lebih Melimpah dari Emas

58
0
SHARE
Unsur tanah jarang atau Rare Earth Element merupakan bahan penting dalam industri ponsel cerdas (kredit gambar : U.S. Department of Agriculture / Peggy Greb)

Walaupun disebut sebagai Unsur Tanah Jarang, atau Rare Earth Element, sebenarnya kelimpahan unsur golongan ini bisa mencapai enam kali emas. Namun, Unsur Tanah Jarang memiliki konsentrasi yang sangatlah kecil pada tubuh batuan dan juga tersebar di berbagai tempat.

Itulah pengantar dari Ir. Amin Tampubolon, M.Sc, Koordinator Penyelidikan Mineral, Pusat Sumber Daya Geologi, Badan Geologi pada Seminar Geologi Populer Senin lalu (06/07/15) yang membahas tentang Rare Earth Element & Potensinya di Indonesia.

Rare Earth Element, atau Unsur Tanah jarang adalah unsur-unsur yang berada pada deret lantanida (nomor atom 57 sampai 71)  pada tabel periodik kimia ditambah dengan Scandium dan Yttrium. Unsur Tanah jarang menjadi bahan penting untuk teknologi tinggi, mulai dari supermagnet hingga ponsel cerdas.

Beliau juga mengatakan sampai sekarang Tiongkok menjadi produsen terbesar Unsur Tanah Jarang dunia. Pada tahun 2010 Tiongkok sempat membatasi ekspor Unsur Tanah Jarang karena alasan Lingkungan. Hal ini membuat panik negara-negara yang menjadi mengandalkan Unsur Tanah Jarang ini, semacam Jepang dan Amerika Serikat.

Potensi Unsur Tanah Jarang di Indonesia

Ada perbedaan kondisi geologi antara Indonesia dan Tiongkok yang menyebabkan perbedaan karakteristik keterdapatan Unsur Tanah Jarangnya. Di Indonesia umumnya Unsur Tanah Jarang yang ditemukan berkaitan dengan unsur radioaktif.

Di Indonesia mineral-mineral yang terindikasi mengandung unsur tanah jarang antara lain monasit, xenotim, dan zircon. Tipe Endapan yang potensial menghasilkan unsur tanah jarang ini adalah tipe plaser, pelapukan residual, dan tipe endapan laterit.

Saat ini Indonesia belum secara resmi memproduksi unsur tanah jarang untuk diekspor. Saat ini Indonesia baru memulai pilot project produksi unsur tanah jarang. Produksinya pun hanya 50 Kg per hari. Penemuan yang sifatnya masih berupa indikasi dan juga peraturan pemerintah menjadi beberapa faktor yang menyebabkan Indonesia belum menjadi pemain di industri penambangan unsur tanah jarang ini. Namun bukan tidak mungkin dengan kerjasama dari berbagai pihak, Indonesia akan menjadi salah satu penghasil unsur tanah jarang. (bg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here