Home Kolumnis Belajar dari Gempa L’Aquila : Siapa yang Salah?

Belajar dari Gempa L’Aquila : Siapa yang Salah?

26
0
SHARE
640px-L'Aquila_eathquake_prefettura
(kredit : TheWiz83; sumber : commons.wikimedia.org)

*Tulisan ini merupakan bagian kedua dari tulisan sebelumnya mengenai gempa L’Aquila

Upaya Memprediksi Gempa

Sejauh ini, seperti yang dikatakan oleh Alan I. Leshner dalam suratnya ke presiden Italia, belum ada metode yang secara akurat dapat memprediksi kapan gempabumi akan terjadi. Ini adalah kenyataan yang harus kita terima. Para ilmuwan sebenarnya bisa mengetahui gempabumi akan terjadi dimana. Pemetaan mengenai sejarah dan pemetaan titik-titik rawan gempa sudah maju. Namun, secara akurat memprediksi kapan gempabumi akan terjadi adalah masalah yang belum terpecahkan.

Ini juga yang sebenarnya telah dilakukan oleh sekelompok ahli gempa di Italia. Instituto Nazionale di Geofisica e Vulcanologia (INGV) sudah menerbitkan peta rawan gempabumi wilayah Italia. L’Aquila termasuk ke dalam daerah berwarna merah gelap, dengan kata lain sangat berbahaya.

Inilah yang menjadi permasalahan. Pada saat pertemuan, menurut Duhaime-Ross dalam artikelnya di theverge.com, Enzo Boschi mengatakan pernyataan bahwa tidak ada kemungkinan dalam waktu dekat terjadi gempabumi besar di L’Aquila.

“Gempabumi besar sepanjang garis kejadian di 1703 adalah tidak mungkin (improbable) dalam waktu dekat,” ungkap Enzo Boschi.

“Tetapi kemungkinannya tidak bisa secara definitif dikecualikan”, tambah Boschi yang merupakan anggota dari Italian Serious Risk Commission.

Ungkapan “tidak mungkin” (improbable) dari Boschi ini yang menjadi sorotan Fabio Picuti. Fabio Picuti adalah salah satu dari warga L’Aquila yang marah terkait apa yang terjadi di kotanya. Picuti menyoroti kontradiksi informasi peta rawan gempabumi INGV dengan pernyataan “improbable” dari Boschi. Boschi dan Selvaggi sendiri termasuk ke dalam tim yang membuat peta rawan bencana itu.

Ada hal menarik lain lagi terkait penelitian tentang gempabumi di L’Aquila. Boschi pernah menulis sebuah paper yang membahas prediksi gempa di berbagai wilayah di Italia dalam kurun 5, 20, dan 100 tahun. Dalam paper itu disebutkan bahwa kemungkinan terjadi gempa di L’Aqulia dalam kurun waktu-waktu tersebut adalah 1. Artinya bisa dikatakan pasti akan terjadi gempa besar di L’Aquilla.

Namun inilah rumitnya prediksi gempa. Menrut Boschi, perhitungan untuk jangka waktu 5 tahun sama dengan untuk 20 atau 100 tahun. Misalnya ternyata tidak terjadi gempa besar dalam kurun 5 tahun, dan memang itu yang terjadi di L’Aqulia sebelumnya, maka bukan berarti masa gempa dalam 5 tahun itu terlewati. Dengan kata lain, gempabumi besar bisa kapan saja terjadi tanpa ada yang secara pasti tahu tanda-tandanya.

L’Aquila sebenarnya memang daerah yang memiliki sejarah gempa besar. Salah satu yang terkenal terjadi pada 1703 dan diperkirakan memakan hingga 1000 korban jiwa. Jumlah ini cukup banyak mengingat jumlah penduduk pada saat itu.

Web

Masalah komunikasi

Nature.com, mengutip pernyataan Romolo Como, mengungkapkan bahwa para ilmuwan ini tidak dihukum karena gagal memprediksi gempa tetapi karena gagal mengevaluasi dan mengkomunikasikan resikonya dengan benar.

David Ropeik membuat tulisan dengan judul yang saya rasa sangat menwakili apa yang terjadi, “Putusan L’Aqulia : Keputusan bukan terhadap sains, tetapi terhadap kegagalan komunikasi sains.”

Ropeik mengkritisi fenomena ini dari berbagai sudut. Pertama, Ropeik meluruskan kesalah-pahaman media yang memberitakan bahwa kasus ini akibat kegagalan memprediksi gempa. Termasuk surat yang dikritisi Ropeik adalah surat Leshner yang salah tangkap menurutnya terkait apa yang sebenarnya terjadi. Ropeik menyatakan bahwa kasus ini bukan tentang kegagalan memprediksi gempa, tetapi kasus ini adalah tentang buruknya komunikasi para ilmuwan itu.

Kedua, yang menjadi sasaran kritik Ropeik adalah Ilmuwan dan otoritas itu sendiri. Ropeik mengkritisi para ilmuwan yang sebnarnya tidak melakukan komunikasi sama sekali terhadap penduduk setelah pertemuan. Mereka malah membiarkan De Bernardinis yang sebenarnya bukan ahli dalam bidangnya untuk menjelaskan kondisi yang terjadi.

Keduanya, menurut Ropeik, baik De Bernardinis maupun para ilmuwan sama-sama patut untuk disalahkan. Para ilmuwan patut dimintai pertanggung-jawaban karena membiarkan orang yang tidak kompeten dalam bidangnya memberikan pernyataan.

Analisa menarik disampaikan oleh David Wolman dari medium.com. Ketika Boschi mengungkapkan “improbable” maka kalangan ilmuwan akan menganggap kejadian jarang terjadi, tetapi kalangan selain ilmuwan akan menganggap secara sederhana “tidak akan terjadi”.

Memang apa yang terjadi pada kasus L’Aquila ini adalah masalah komunikasi. Itu yang menjadikan tujuh orang ini jatuhi hukuman 6 tahun penjara. Kita lihat lagi bahwa mereka dianggap mengeluarkan pernyataan yang menyebabkan 29 orang tidak keluar dari rumahnya saat gempa dan akhirnya tewas.

Profesor Iain Stewart dalam kuliah umumnya di University of New South Wales, Australia mengungkapkan bahwa ilmuwan memiliki kewajiban untuk menyampaikan penelitiannya ke khalayak. Namun pada kasus L’Aquila ini kita belajar bahwa ilmuwan tidak sekedar harus menyampaikan tetapi membuat masyarakat menangkap dengan utuh apa yang penelitiannya ungkap.

Tidak Ada yang Perlu Dirayakan

Pada 10 November 2014, enam orang ilmuwan ini dibebaskan dari hukuman dan De Bernardinis dikurangi hukumannya hingga hanya menjadi 2 tahun dari sebelumnya 6 tahun. Hakim menganggap bahwa tidak ada kaitan antara pertemuan pada 31 Maret 2009 terhadap meninggalnya 29 orang yang tewas di dalam rumah mereka saat gempa terjadi. Pengadilan juga mengungkapkan bahwa para ilmuwan ini tidak bertanggung jawab terkait pernyataan De Bernardinis.

“Tidak ada yang perlu dirayakan,” ungkap Selvaggi, yang akhirnya dipustuskan tak bersalah, kepada Nature.com, “derita penduduk L’Aquila tetap ada.”

Keputusan ini tentu saja memiliki dua tanggapan berbeda. Penduduk L’Aquila tentu banyak yang kecewa dengan keputusan ini. Namun di sisi lain, kebebasan para ilmuwan ini setidaknya membuat komunitas ilmiah terutama yang bergerak dalam penelitian bencana tidak ragu dalam menyampaikan hasil penelitiannya. Sehingga penelitian dan juga sosialisasi mengenai bencana dapat terus meningkat dalam kualitas maupun kuantitasnya.

Dari apa yang terjadi pada L’Aquila ini kita belajar sesuatu. Kemampuan seorang ilmuwan dalam berkomunikasi kepada publik adalah sama pentingnya dengan kemampuan ia mengungkap fenomena alam. Hal ini menjadi lebih krusial pada bidang-bidang yang secara langsung berkaitan dengan nyawa manusia, seperti kebencanaan misalnya. Maka upaya untuk meningkatkan kemampuan komunikasi para ilmuwan sangat perlu dilakukan. (gaj)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here