Home Kelas Geologi CATATAN PERJALANAN : MENELUSURI PENINGGALAN VULKANISME MERATUS DI SELATAN JAWA BAGIAN BARAT

CATATAN PERJALANAN : MENELUSURI PENINGGALAN VULKANISME MERATUS DI SELATAN JAWA BAGIAN BARAT

43
0
SHARE

Oleh : Zunarto Saputra

Gambar 1. Pola struktur pulau Jawa (Martodjodjo dan Pulonggono, 1994)
Gambar 1. Pola struktur pulau Jawa (Martodjodjo dan Pulonggono, 1994)

Pulau Jawa, dalam kerangka tektonikanya dikatakan oleh Pulonggono dan Martodjodjo (1994) setidaknya dipengaruhi oleh tiga pola subduksi, yakni : Pola Subduksi Sunda yang berarah utara-selatan, Pola Subduksi Meratus yang berarah baratdaya-timurlaut, serta Pola Subduksi Jawa yang berarah barat-timur (Gambar 1). Bukti tiap pola tersebut hingga saat ini masih terekam dengan baik pada singkapan-singkapan batuan di Pulau Jawa. Namun, dibandingkan dengan Pola Subduksi Jawa, 2 Pola Subduksi pendahulunya relatif cukup sulit untuk ditemukan bukti-buktinya.

Gambar 2. Singkapan Tuff Formasi Cikotok, pada daerah Cikotok, Propinsi Banten
Gambar 2. Singkapan Tuff Formasi Cikotok, pada daerah Cikotok, Propinsi Banten

Pada awal tahun ini, penulis berkesempatan untuk melihat salah satu bukti peninggalan vulkanisme meratus. Adalah singkapan tuff formasi Cikotok didaerah Cikotok yang berumur Eosen Awal (Martodjodjo, 1984) yang kami datangi (Gambar 2). Meskipun ada perbedaan pendapat dikalangan ahli mengenai umur tuff formasi Cikotok ini, antara lain van Bemmelen (1949) yang mengatakan bahwa Tuff ini berumur sama dengan formasi Bayah (Eosen tengah), penulis tetap menggunakan pendapat Martodjodjo. Salah satu yang mendasari adalah, tidak ditemukannya kontak antara tuff formasi Cikotok dengan formasi Bayah yang membuat interpretasi menjadi lebih meluas dan juga tidak ditemukannya material vulkanisme pada formasi Bayah yang telah penulis amati, antara lain Formasi Bayah pada daerah karang taraje dan Formasi Bayah pada daerah pasir bongkok, Sukabumi.

Gambar 3. Penampang stratigrafi terpulihkan Utara-Selatan di Jawa Barat (Martodjodjo, 1984)
Gambar 3. Penampang stratigrafi terpulihkan Utara-Selatan di Jawa Barat (Martodjodjo, 1984)

Untuk mecapai lokasi ini, bisa ditempuh dari berbagai macam rute (Gambar 4). Jalur pertama bisa melalui jalur selatan Jawa, melalui Pelabuhan Ratu terus kearah barat hingga sampai ke daerah Bayah. Dari daerah Bayah bergerak kearah utara lebih kurang 10km hingga sampai ke Cikotok. Opsi kedua bisa melalui Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Dari Rangkasbitung terus bergerak kearah selatan hingga sampai ke Cikotok.

Gambar 4. Lokasi pengamatan (kotak merah) yang berada pada Propinsi Banten

Tuff Formasi Cikotok ini memliki warna putih kehijauan, terpilah dengan baik, telah mengalami alterasi yang cukup kuat, serta memiliki kandungan fragmen mineral seperti zeolit, chlorit, dan oksida besi (Gambar 5). Warna hijau yang terlihat dari kejauhan disebabkan oleh kandungan mineral yang telah disampaikan sebelumnya. Kemudian, yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah kapan proses alterasi pada tuff formasi Cikotok ini terjadi ?

Kami memperkirakan bahwa proses alterasi pada tuff formasi cikotok ini tidak terjadi bersamaan dengan terendapkannya formasi ini (Eosen Awal). Hal ini dikarenakan proses alterasi yang cukup kuat pada formasi ini membutuhkan waktu yang cukup lama atau jeda. Sehingga, penulis menafsirkan proses alterasi pada tuff formasi cikotok ini terjadi pada kala Miosen, saat proses penunjaman telah berganti menjadi Pola Subduksi Jawa.

Gambar 5. Tuff formasi Cikotok yang telah teralterasi.
Gambar 5. Tuff formasi Cikotok yang telah teralterasi.

Pada kala Eosen awal, diduga merupakan waktu terendapkannya material ini, sekaligus merupakan fase akhir dari aktivitas vulkanisme meratus (Gambar 6). Penunjaman dari arah tenggara membentuk sebuah vulcanic arc pada arah barat laut (kemungkinan gunung Cikotok yang beroasosiasi dengan endapan emas cikotok). Aktivitas vulkanisme ini mengeluarkan material piroklastik berukuran halus berupa tuff yang terendapkan pada daratan. Setelah berakhirnya fase Meratus, maka Pola Subduksi berganti menjadi barat-timur yang kita kenal dengan Pola Jawa. Pada kala ini, kegiatan sedimentasi pada cekungan Bogor terjadi sangat intens.

Gambar 6. Ilustrasi pengendapan tuff Cikotok pada kala Eosen Awal (Modifikasi dari Martodjodjo, 1984)
Gambar 6. Ilustrasi pengendapan tuff Cikotok pada kala Eosen Awal (Modifikasi dari Martodjodjo, 1984)

Daftar Pustaka
Martodjodjo, S., 1984, Evolusi Cekungan Bogor, Jawa Barat, Disertasi Doktor, ITB.
Pulunggono, A., dan Martodjodjo, S., 1984, Perubahan Tektonik Paleogen-Neogen Merupakan Peristiwa Tektonik Terpenting di Jawa, Proceeding Geologi dan Geotektonik Pulau Jawa Sejak Akhir Mesozoik Hingga Kuarter, Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here