SHARE
Kelud_2012
Kubah Lava Gunung Kelut; Dalam Kurun 1983 hingga 2007 ada enam gunungapi yang meletus dan berujung pada terbentuknya kubah lava. (kredit gambar : Kembangraps; sumber : commons.wikimedia.org)

Dalam kurun waktu antara 1983 hingga 2007, ada enam gunungapi di Indonesia yang meletus dan berakhir dengan terbentuknya kubah lava di dasar kawahnya. Uniknya, keenam letusan yang berakhir dengan munculnya kubah lava ini memiliki kesamaan rekaman seismik. Rekaman seismik ini berbeda dengan rekaman gempa bumi vulkanik Tipe B biasa.

Hal ini disampaikan oleh Syamsul Rizal Wittiri dalam papernya yang berjudul “Indikasi Munculnya Kubah Lava Berdasarkan Rekaman Seismik” yang dimuat dalam Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 4 No. 2 Juni 2009.

Keenam gunungapi yang meletus dan berakhir degan terbentuknya kubah lava itu adalah Kie Besi pada 1983, Soputan (1991), Ibu (1999), Awu (2004), Merapi (2006), dan Kelut (2007).

Kie Besi pada 1983

Gunung Kie Besi adalah gunungapi yang terletak di barat daya Pulau Halmahera. Gunung ini membentuk Pulau Makian dengan kawah berukuran 550 x 400 m. Letusan pada 17 Juli 1988 berakhir dengan terbentuknya kubah lava dengan volume 282.600 m3.

Soputan pada 1991

Pada tahun 1991, kawah kosong Gunung Soputan mulai terisi lava. Pada tahun 2001, sepuluh tahun kemudian, seluruh ruang kosong kawah ini dipenuhi oleh lava hingga membentuk sumbat lava. Sumbat lava ini bahkan lava sempat meluber keluar dari bibir kawah. Uniknya lagi setiap musi hujan selalu terjadi letusan karena air meresap hingga menyentuh magma yang panas.

Ibu pada 1999

Gunung Ibu terletak di pedalaman Pulau Halmahera. Sempat terjadi selisih di kalangan ahli apakah gunung ini masuk tipe A (pernah meletus sejak tahun 1600) atau tipe B (tidak ada catatan letusan sejak tahun 1600 hingga sekarang). Setelah sekian lama tidak masuk dalam daftar gunungapi aktif, pada tahun 1998 Gunung Ibu menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Pada desember 1998 terjadi letusan asap dan pada 16 Januari 1999 terlihat lontaran lava pijar dari bibir kawah.

Wittiri mengatakan berdasarkan pendakian yang dilakukan pada 2 Februari 1999, diketahui telah terbentuk sumbat lava di dasar kawah.

Awu pada 2004

Gunung Awu adalah puncak tertinggi di Pulau Sangihe, Sulawesi Utara dengan ketinggian 1220 mdpl. Pembentukan kubah lava di dasar kawah merupakan hal yang sering terjadi pada gunung ini. Letusan pada 1931 berakhir dengan terbentuknya kubah lava. Kubah ini kemudian hancur akibat letusan Agustus 1966. Pada Juni 2004 terjadi lagi letusan dan berakhir dengan terbentuknya kubah lava sebesar3 juta m3 di dasar kawah.

Merapi pada 2006

Merapi menjadi gunungapi yang banyak dikenal, termasuk secara internasional. Pembentukan kubah lava di puncak menjadi ciri khas dari setiap letusan gunung di utara Jogjakarta ini. Merapi juga dikenal sebagai salah satu nama tipe letusan gunungapi. Pada letusan tahun 2006, tepatnya pada tanggal 26 April, pos pengamatan mulai melihat kemunculan kubah lava di puncak Merapi.

Kelut pada 2007

Menurut Wittriri Kelut memiliki catatan letusan yang berakhir menjadi letusan pada 1376 dan 1920. Menariknya beberapa puncak sekitar kawah juga merupakan kubah lava sisa kegiatan masa lalu. Pada tahun 2007 Kelut mulai bergejolak kembali setelah istirahat sejak tahun 1990. Letusan tahun 2007 ini yang kemudian kembali membentuk kubah lava degan volume 16,3 m3.

. . .

Apa yang Lebih Menarik?

“..keenam letusan ini memiliki bentuk rekaman seismik yang sama

Dalam dunia seismologi vulkanik, kita mengenal empat jenis gempa vulkanik versi Takeshi Minakami. Minakami membagi gempa vulkanik berdasarkan bentuk rekaman pada seismograf menjadi tipe A (high-frequency), tipe B (Low-frequency), explosion quake, dan volcanic tremor. Keempat jenis gempa vulkanik ini memiliki bentuk dan arti masing-masing, namun kali ini kita akan fokus pada gempa vulkanik tipe B.

Gempa vulkanik tipe B merupakan gempa vulkanik dangkal. Kedalaman gempa jenis ini berada kurang dari radius 1 km dari kawah aktif. Magnitudo gempa ini kecil dan didominasi gelombang permukaan. Gempa vulkanik tipe B ditandai dengan kemunculan amplitudo maksimum yang  mendadak membesar kemudian mengecil kembali dalam waktu yang singkat.

Sesuatu yang lebih menarik adalah temuan bahwa keenam letusan ini memiliki bentuk rekaman seismik yang sama. Wittiri menyebut rekaman seismik ini sebagai Gempa Vulkanik Tipe B Plus yang berbeda dengan gempa vulkanik tipe B biasa. Gempa vulkanik tipe B Plus ini juga menjadi indikasi munculnya kubah lava.

Menurut Wittiri Gempa Vulkanik tipe B dan Tipe B Plus serupa tapi tak sama. Perbedaanya terletak pada durasi amplitudo maksimum. Pada gempa vulkanik tipe B, amplitudo maksimum mendadak membesar kemudian mengecil dalam waktu singkat. Sementara pada gempa vulkanik Tipe B Plus, Amplitudo maksimum terjadi hampir sepanjang durasi gempa. Menurut Wittiri, hal ini terjadi akibat konsekuensi dari luasnya bidang yang merekah akibat desakan magma.

Tipe B & B Plus Croped
Perbedaan Gempa Vulkanik Tipe B dan B Plus ada pada perioda amplitudo maksimum yang lebih panjang pada tipe B Plus; Gambar a) gempa vulkanik tipe B & Gambar b) gempa vulkanik tipe B Plus (Kredit : S.R. Wittiri)

Gempa yang memiliki kesamaan bentuk dapat terjadi karena mekanisme dan kedalaman gempa yang relatif sama. Temuan menarik ini mengindikasikan fenomena kesamaan mekanisme & kedalaman gempa pada enam gunungapi ini. Gempa Vulkanik Tipe B Plus ini juga bisa menjadi dasar prediksi kemunculan kubah lava. (gaj)


Sumber :

Wittiri, S.R., 2009. Indikasi munculnya Kubah Lava berdasarkan Rekaman Seismik. Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 4 No. 2 Juni 2009. Link : <http://www.bgl.esdm.go.id/publication/index.php/dir/article_detail/244> diakses pada 10 Sept. 2015

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here