Home Berita Terkini Konflik Lawu : Dimanakah Peran Geologist ?

Konflik Lawu : Dimanakah Peran Geologist ?

111
1
SHARE

 

Pemandangan Puncak Gunung Lawu (http://www.indonesia-tourism.com)

Gempita diumumkannya hasil pelelangan WKP (Wilayah Kerja Panasbumi) Gunung Lawu menjadi angin segar bagi masyarakat, khususnya warga yang berada di sekitar area pengembangan proyek. Sebab artinya 165 MW energi listrik siap dialirkan dari “perut bumi” untuk pemenuhan kebutuhan listrik serta pengembangan wilayah Lawu dan sekitarnya. PGE (Pertamina Geothermal Energy) – sebagai pengelola yang ditunjuk oleh ESDM, siap mengucurkan dana US$ 50 juta atau setara dengan 667 milyar rupiah untuk tahap Eksplorasi (tahap penelitian) WKP Lawu.

Namun sangat disayangkan, sejak keputusan pelelangan WKP Gunung Lawu pada 1 Juli 2015 hingga kini, PGE belum bisa melakukan eksplorasi pada kawasan tersebut. Hal ini dikarenakan masyarakat termasuk Bupati Karanganyar tidak menyetujui pengembangan WKP Gunung Lawu. Rusaknya sumber mataair, peningkatan potensi gerakan masa dan perubahan area konservasi alam menjadi kekhawatiran masyarakat jikalau proyek tersebut terealisasi.

Gesekan kepentingan antara pemanfaatan sumber daya alam dan kegiatan konservasi lingkungan masih menjadi problema pada masyarakat di Indonesia, salah satunya di kawasan Gunung Lawu. Selain karena nilai kosmologi – bahwa alam sangat disakralkan karena kekuatan ghaibnya, gesekan ini juga disebabkan karena kesalahpahaman masyarakat terhadap proses eksploitasi sumber daya alam, dalam hal ini yang berkaitan dengan pengembangan geothermal.

Gerakan masyarakat Gunung Lawu yang menolak pengembangan geothermal (sumber : grup facebook : info warga karanganyar)

Dalam sebuah forum diskusi bertajuk Seminar Energi Nasional yang diselenggarakan oleh SM-IAGI UGM (18/2) dengan mengangkat topik khusus “Potensi Lawu: Ekstraksi atau Konservasi” dipaparkan oleh salah satu praktisi masyarakat – Joko Sunarto mengenai keresahan warga dalam menyikapi rencana pengembangan geothermal. Menariknya, paparan tersebut membuat audiens yang sebagian besar adalah Mahasiswa Teknik Geologi dan Geofisika menarik nafas panjang (hasil pengamatan penulis terhadap dinamika forum) bahwa ternyata tidak ada yang salah dari pengembangan geothermal maupun respon masyarakat. Kesalahan ada pada kesenjangan kepahaman dan pengetahuan yang jikalau edukasi masyarakat dilakukan secara optimal maka tidak akan terjadi konflik yang demikian.

Geothermal mengancam kehidupan masyarakat Gunung Lawu

Hadirnya geothermal ditangkap oleh masyarakat Gunung Lawu sebagai ancaman yang akan merubah tatanan sosial dan merusak lingkungan. Maka alangkah bijaknya, pernyataan tersebut bermuara pada kajian ilmiah yang mendalam terhadap seberapa besar kemungkinan terjadinya kerusakan lingkungan dan bagaimana cara mengantisipasi serta menanggulanginya kelak – yang kesemuanya secara komprehensif telah diatur di dalam AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Pengembangan geothermal sudah pasti harus memenuhi berbagai aspek yang diatur dalam AMDAL sebelum melakukan ekploitasi. Di sinilah kemudian fungsi penting Geologist, melakukan analisis yang saintifik dan obyektif terhadap karakteristik dari keterdapatan geothermal serta dampaknya terhadap lingkungan.

Karena bahwasanya secara natural gunungapi melepaskan berbagai unsur baik berupa gas maupun senyawa logam berat yang berpotensi sebagai pollutant di lingkungan(bahaya tidaknya bergantung pada konsentrasinya), ada atau tidak ada PLTPB. Bahwasanya secara natural area gunungapi sangat rentan terhadap gerakan masa baik karena faktor morfologi, komposisi batuan maupun adanya struktur geologi (sesar). Gerakan massa justru kerap dipicu karena faktor aktivitas manusia berupa pengalihan fungsi tata guna lahan pertanian yang belum memperhatikan jenis tanaman dan  kondisi kestabilan area (selebihnya telah saya paparkan pada artikel sebelumnya http://localhost/bg2//dibalik-bencana-banjir-dieng/). Sehingga kondisi tersebut bukanlah alasan yang kuat untuk lantas membiarkan potensi panasbumi berdiam diri di perut bumi. Maka, di sinilah fungsi penting geologist untuk membantu melakukan rekayasa geoteknik sebagai upaya meminimalisir resiko pergerakan massa.

Pemanfaatan Geothermal untuk siapa?

Berikut kutipan percakapan dalam salah satu rangkaian Seminar Energi Nasional SM-IAGI UGM (18/2).

Moderator: “Jikalau pengembangan geothermal ini mampu meminimalisir dampaknya terhadap lingkungan dan tidak melukai konservasi budaya, sebaliknya justru dengannya dapat mengimpuls perkembangan perekonomian masyarakat Lawu, apakah anda menyetujuinya?”

Pak JS: “Ya saya mengerti bahwa akan dihasilkan kebermanfaatan yang besar dengan pendirian PLTPB ini, tetapi kebermanfaatan ini untuk siapa? Untuk pihak asing ataukah untuk masyarakat elite perkotaan?”

Dari percakapan di atas lagi-lagi membuat para geologist mengintrospeksi diri. Selama ini seberapa banyak intensitas kita berinteraksi dengan masyarakat?

Bahwasanya geothermal merupakan energi yang bersifat insitu. Artinya, energi listrik hanya dapat dimanfaatkan pada area sekitar PLTPB. Berbeda halnya dengan minyak dan gas bumi atau bahan galian yang dapat diekspor dan diimpor. Inilah salah satu keunggulan geothermal untuk pengembangan daerah.

Masih meragukan kebermanfaatan geothermal bagi daerah sekitarnya? Maka coba simak keuntungan yang telah dirasakan masyarakat Sulawesi Utara dengan kehadiran PLTPB Lahendong. https://www.mongabay.co.id/2016/08/12/begini-manfaat-energi-panas-bumi-bagi-masyarakat-sulawesi-utara/

Sebab Chevron meninggalkan lapangan panasbumi Darajat dan Salak

Kegelisahan masyarakat Lawu bagaikan luka yang ditaburi garam kala mendengar pemberitaan bahwa Chevron meninggalkan lapangan panasbumi Darajat dan Salak (11/2016).

Apakah karena dampak geothermal yang mengakibatkan kerusakan lingkungan sehingga Chevron – perusahan berkaliber internasional pergi? beginilah hembusan kegelisahan itu.

“Chevron melepaskan saham (farm out) pada lapangan panasbumi Darajat dan Salak dikarenakan kondisi sektor migas sedang lesu akibat harga minyak mentah terus menunjukkan tren penurunan. Hal inilah yang menyebabkan mereka memangkas bisnis yang dianggap tidak menguntungkan,” ungkap Rida Mulyana Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Agus Indiyanto, Ahli Antropologi dari UGM menuturkan bahwa salah satu penyebab “meruginya” perusahaan juga disebabkan karena fenomena sosial “mahalnya upeti masyarakat sekitar” sehingga perusahaan enggan untuk melanjutkan proyek tersebut.

Reputasi PGE

Kekhawatiran masyarakat akan dampak negatif pengembangan geothermal bukan berarti tidak beralasan. Beberapa peristiwa baik secara alamiah maupun karena kesalahan teknis pernah terjadi di PLTPB sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan. Maka perlu kejelian pemerintah dalam hal ini adalah kementrian ESDM dalam memberikan perizinan pengelolaan. Tersebab menjamurnya “perusahaan abal-abal” bukanlah hal yang baru. “Perusahaan abal-abal membeli WKP untuk kemudian dijual kembali tanpa berniat melakukan pengelolaan,” ungkap Pak Eben Ezer Siahaan, pakar pengembangan panasbumi.

Maka putusan PGE sebagai pihak pengelola WKP (Wilayah Kerja Panasbumi) Gunung Lawu merupakan hal yang tepat. Pasalnya, PGE merupakan perusahaan milik negara yang lebih membawa kepentingan masyarakat Indonesia dibandingkan dengan perusahaan asing ataupun swasta. Selain itu, PGE telah memiliki banyak pengalaman dalam pengembangan panasbumi di Indonesia. Silakan cek link berikut, http://pge.pertamina.com/wilayah-kerja.aspx. Lapangan panasbumi Kamojang adalah yang terbaik di Dunia. Kompetensi PGE juga telah diakui secara internasional bahkan menjadi salah satu yang terbaik. Berikut list capaiaan PGE http://pge.pertamina.com/prestasi-bisnis.aspx.   

Dimanakah peran Geologist?

Dari sedikit ulasan tersebut, kita memahami bahwa terdapat perbedaan “world view” antara saintis dengan masyarakat umum. Geologist sebagai pihak saintis yang mengetahui seluk beluk geothermal berkewajiban memberikan edukasi dan pemahaman terhadap masyarakat. Membahasakan pandangan ilmiah agar diterima masyarakat Lawu yang masih berpandangan magis serta meluruskan asumsi terhadap pengembangan geothermal yang masih kurang tepat.

Tidak mudah. Membutuhkan pendekatan yang berkelanjutan untuk mengedukasi masyarakat. Namun, bagaimanapun tetap harus ada yang mengupayakannya.

Ini hanyalah secuil kisah di Lawu yang  menjadi satu bagian mozaik dari banyaknya permasalahan yang serupa pada pengembangan geothermal di Indonesia. Pengembangan geothermal pun merupakan satu rangkaian mozaik diantara sekumpulan mozaik lainnya : problematika  mitigasi bencana, penataan ruang dan tata guna lahan, literasi geografi  serta aspek lainnya.

Geologist berperan besar  turut andil dalam mencerdaskan masyarakat untuk lebih mengenali dan mampu mengelola alam tempat tinggalnya secara bijak baik potensi sumber daya-nya maupun bencana yang menyertainya

“Geologist tak melulu berkancah pada bidang eksplorasi dan eksploitasi namun juga EDUKASI.” Gamma A.J.

 

Referensi :

http://beritajateng.net/bupati-karanganyar-tolak-proyek-panas-bumi-dari-gunung-lawu/

http://dishut.jabarprov.go.id/?mod=detilBerita&idMenuKiri=&idBerita=1550

http://ebtke.esdm.go.id/post/2015/07/01/891/pelelangan.wilayah.kerja.panasbumi.wkp.gunung.lawu

http://ekonomi.metrotvnews.com/energi/lKY1Va3K-pemerintah-akui-chevron-bakal-lepas-bisnis-geotermal-di-indonesia

http://m.solopos.com/2016/05/14/proyek-panas-bumi-karanganyar-eksplorasi-di-gunung-lawu-sesuai-uu-719207

http://pge.pertamina.com/

http://www.beritasatu.com/ekonomi/352569-garap-wkp-gunung-lawu-pge-kucurkan-investasi-awal-us-50-juta.html

https://www.mongabay.co.id/2016/08/12/begini-manfaat-energi-panas-bumi-bagi-masyarakat-sulawesi-utara/

 

 

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here