SHARE
Barringer_Crater_aerial_photo_by_USGS
Kawah Behringer, lima dari enam kawah meteor terbesar memiliki korelasi kuat dengan terjadinya kepunahan massal (kredit gambar : USGS/D. Roddy; sumber : commons.wikimedia.org)

Baru-baru ini ilmuwan menemukan korelasi kuat antara terjadinya hujan meteor dan peristiwa kepunahan massal. Penemuan ini dapat menjadi rantai dalam upaya manusia memahami peristiwa kepunahan massal yang pernah terjadi sepanjang sejarah bumi.

Korelasi antara hujan meteor dan kepunahan massal ini disampaikan oleh Michael Rampino, ahli geologi dari New York University, dan Ken Caldeira, ilmuwan dari Carniege Institution’s Department of Global Ecology. Penemuan keduanya ini menjadi bagian dari hipotesis kontroversial yang mengaitkan kepunahan massal dengan keberadaan kawah meteor.¬†Keduanya menunjukkan sebuah pola dalam kurun 260 juta tahun yang menunjukkan bahwa terbentuknya kawah meteor dan kepunahan massal terjadi setiap 26 juta tahun.

Menurut mereka, hal ini terjadi karena pengaruh pergeraka periodik matahari dan planet terhadap bidang tengah pekat dari galaksi kita. Para ilmuwan juga berteori bahwa gangguan gravitasional dari Awan Oort yang jauh menyebabkan hujan meteor secara periodik di dalam tata surya kita. Kemudian hujan meteor ini juga mengantarkan jatuhnya komet ke bumi.

Untuk membuktikan hal tersebut Rampino dan Caldeira melakukan analisis terhadap serial waktu keterbentukan kawah meteor dan kepunahan massal. Hasilnya, menurut mereka enam peristiwa kepunahan massal dalam periode 260 juta tahun itu berkorelasi dengan waktu dimana terbentuk kawah meteor.

Lebih jauh, keduanya juga mengatakan bahwa lima dari enam kawah meteor terbesar yang terbentuk sepanjang 260 juta tahun terakhir berkorelasi dengan peristiwa kepunahan massal.

“Siklus kematian dan kehancuran kosmis ini, tanpa keraguan, berpengaruh terhadap sejarah kehidupan di planet kita.” Ujar Rampino. (gaj)

Sumber : dari materi Royal Astronomical Society

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here