SHARE

Sekelompok ilmuwan dari Oxford, Harvard, dan juga dari The Korea Polar Research Institute melakukan studi pada pematang tengah samudera yang berada antara Antartika dan Australia. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa ada korelasi kuat antara periode glasial dengan terbentuknya bukit-bukit abisal di sisi-sisi pematang tengah samudera ini.

Zaman es merupakan suatu siklus yang dipengaruhi oleh orbit bumi yang berpengaruh terhadap bagaimana cahaya matahari dapat sampai ke bumi. Siklus ini biasanya sangat terasa pada belahan bumi utara dan dikenal sebagai Siklus Milankovitch.

Sementara itu pematang tengah samudera merupakan batas lempeng divergen yang mana kerak samudera baru terbentuk di sini. Pada pematang tengah samudera ini dua kerak samudera bergerak saling menjauh dan pada celah ini keluar magma yang kemudian membeku menjadi kerak samudera. Pada kedua sisi pematang yang bergerak saling menjauh ini juga terbentuk perselingan bukit-bukit dan lembah-lembah. Pertanyaan yang mengemuka adalah apa yang menyebabkan adanya variasi bukit dan lembah yang mengiringi terbentuknya pematang tengah samudera ini.

Idenya adalah bahwa pada zaman es, air laut akan membeku dan tersimpan di daratan. Hal ini menyebabkan turunnya muka air laut hingga 100 meter lebih. Penurunan muka air laut ini dapat berlangsung selama puluhan hingga ratusan ribu tahun lamanya.

Berkurangnya muka air laut ini juga berimbas pada berkurangnya tekanan pada air laut. Berkurangnya tekanan air laut ini juga berimbas pada berkurangnya tekanan terhadap mantel bumi di bawah lantai samudera. Berkurangnya tekanan ini memicu erupsi bawah laut yang lebih cepat sehingga membentuk bukit-bukit abisal.

Sementara itu, hal berkebaikan terjadi ketika bumi tidak berada pada zaman es. Tekanan air laut tentu bertambah besar, sehingga erupsi bawah laut pada pematang tengah samudera juga tertahan. Maka pada periode interglasial ini terbentuk lembah-lembah abisal buka bukit-bukit.

Dr. Crowley (pemimipin regu) dan rekan melakukan penelitian dengan mencocokkan titik-titik tertentu pada bagian sisi pematang samudera dengan periode zaman es yang telah diketahui yaitu pada 23.000, 41.000, dan 100.000 tahun lalu. Hasilnya adalah adanya korelasi kuat antara bukit-bukit abisal pada samudera ini dengan periode zaman es yang diketahui ini.

Sementara itu, Maya Tolstoy memiliki fokus penelitian yang lain. Tolstoy berpandangan lebih jauh bahwa erupsi bawah laut yang memproduksi CO2 ini juga dapat menjadi stabilisator zaman es. Tingginya intensitas CO2 pada saat itu dapat menyebabkan semakin panasnya bumi pada saat itu. Sehingga bumi terhindar dari pendingan lebih jauh pada zaman es ini.

Scott K. Johnson dari arstechnica.com berpandangan bahwa penemuan ini mengejutkan karena dapat menemukan hubungan antara cuaca dan bukit-bukit abisal bawah laut. Dia menambahkan bahwa kita bisa saja membagi-bagi antara vulkanolog, glasiolog, dan lain sebagainya, tetapi geologi tidak membagi dirinya secara murni. Dia juga mengatakan bahwa Bumi yang saling terkait ini tidak akan berhenti untuk mengagumkan. (gaj)

Sumber :

http://www.sciencemag.org/content/early/2015/02/04/science.1261508

http://arstechnica.com/science/2015/02/how-earths-orbit-shapes-climate-and-the-seafloor/

http://www.abc.net.au/science/articles/2015/02/06/4174777.htm

http://www.sciencemag.org/content/347/6222/593.summary

gambar :

http://arstechnica.com/science/2015/02/how-earths-orbit-shapes-climate-and-the-seafloor/

SHARE
Previous articleBelajar Oil and Gas di MOOC IFP School
Next article[Infographic] History of Life
Salah satu pendiri Belajar Geologi. Studi masternya diselesaikan di Hokkaido University dengan tema magma plumbing system Gunung Barujari di Komplek Gunungapi Rinjani. Sekarang sering jalan-jalan dan foto-foto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here