Home Artikel Letusan Anak Krakatau Tahun 2018 lalu Memicu Badai Petir

Letusan Anak Krakatau Tahun 2018 lalu Memicu Badai Petir

437
0
SHARE

Erupsi Anak Krakatau yang terjadi pada penghujung tahun 2018 lalu memicu badai petir. Tercatat lebih dari 100 ribu kilatan petir terjadi dalam rentang 6 hari. Hal ini diungkap oleh Prata dan rekan-rekan dalam makalahnya yang dipublikasikan di Jurnal Scientific Reports Februari lalu.

Prata dan rekan-rekan mengungkapkan 102.676 kilat terdeteksi antara 22 hingga 31 Desember 2018 oleh Earth Network Global Lightning Network (ENGLN). Sehingga dalam periode tersebut terjadi rata-rata 8,7 kilat per menitnya. 

Jumlah kilatan petir ini bahkan mencapai maksimum 72 kilatan per menit pada 24 Desember di tahun yang sama. Sebagai perbandingan, kilatan yang terjadi lebih dari 32,9 terjadi pada kurang dari 0,1% badai petir yang terjadi secara akibat proses meteorologi.

Kilat pada erupsi gunungapi

Fenomena munculnya kilat pada erupsi gunung api adalah hal yang umum ditemukan. Salah satu penjelasannya adalah tabrakan antara abu vulkanik di kolom erupsi. Tabrakan antara abu vulkanik ini menyebabkan terpisahnya partikel bermuatan positif dan negatif. Kondisi tidak seimbang inilah yang menyebabkan munculkan arus listrik.

Selain akibat abu vulkanik, munculnya kilat pada erupsi gunung api juga dapat dipicu oleh adanya partikel kecil es. Kondisi ini umum terjadi pada kilat yang muncul pada badai petir yang terjadi akibat proses atmosferik (bukan akibat erupsi gunung api).

Menurut Prata dan rekan-rekan, badai petir yang terjadi pada Anak Krakatau tersebut terjadi akibat tingginya jumlah partikel es. Berdasarkan data satelit, selama enam hari rata-rata sekitar 3 juta ton es bertahan di kolom erupsi Anak Krakatau. Jumlah ini lima kali lebih besar dibandingkan dengan awan konveksi non-vulkanik. Kumpulan es ini merupakan kumpulan partikel es kecil yang berukuran antara 16 hingga 23 mikrometer.

Partikel es ini terbentuk akibat air yang dibawa oleh kolom erupsi Anak Krakatau hingga mencapai ketinggian 16 hingga 18 km di atas permukaan laut. Pada ketinggian ini (lebih dari ketinggian tropopause) air akan mendingin dan menjadi partikel es.

Selain itu, kecepatan naiknya kolom erupsi Anak Krakatau saat itu juga sangat cepat. Naiknya kolom erupsi Anak Krakatau saat itu sekitar 60 meter per detik yang artinya untuk sampai ketinggian 16 km, hanya membutuhkan waktu sekitar 4 menit.

Erupsi Anak Krakatau 2018

Erupsi Anak Krakatau pada Desember 2018 lalu merupakan puncak dari rangkaian erupsi berbulan-bulan sebelumnya. Serangkaian erupsi dengan tipe strombolian hingga vulkanian terjadi setidaknya sejak bulan Mei di tahun tersebut. 

Erupsi Tipe Surtseyan (interaksi magma dengan air laut) yang terjadi pada Anak Krakatau pada Desember 2018 lalu. (Kredit Gambar: Prata, A.T. | CC BY 4.0)

Puncaknya terjadi saat tubuh Anak Krakatau runtuh ke sisi barat daya sang gunung. Runtuhan ini menyisakan morfologi tapal kuda yang menganga ke barat daya. Runtuhnya tubuh ini juga menjadi awal dari dimulainya fase freatomagmatik (interaksi magma dan air) akibat kawahnya berpindah di bawah permukaan laut. 

Serangkaian erupsi freatomagmatik inilah yang memicu terbentuknya kolom erupsi yang bertahan selama 6 hari kemudian. Konveksi awan akibat interaksi magma dan air laut ini kemudian memicu kolom erupsi yang padat akan partikel es kecil.

SHARE
Previous articleQanat : Warisan Dunia, Teknologi Eksploitasi Air Tanah Tertua
Salah satu pendiri Belajar Geologi. Studi masternya diselesaikan di Hokkaido University dengan tema magma plumbing system Gunung Barujari di Komplek Gunungapi Rinjani. Sekarang sering jalan-jalan dan foto-foto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.