Home Kelas Geologi Mempertanyakan Kembali, Kemanakah Arah Utara?

Mempertanyakan Kembali, Kemanakah Arah Utara?

70
0
SHARE

“Utara itu ya ke ataslah, kalau ke bawah itu selatan, kok malah nanya-nanya lagi?”, kata si Itu.

Pemetaan geologi tentulah bukan sesuatu yang asing lagi bagi mahasiswa geologi. Karena keahlian dalam pemetaan geologi itulah mereka pantas disebut sebagai geologist. Maka hampir semua mahasiswa geologi pernah melakukan pemetaan geologi baik sendirian maupun berkelompok. Namun ada satu hal krusial yang sering diabaikan oleh hampir setiap geologist mahasiswa ini. Saat membuat peta atau pun saat melakukan plotting data survey lapangan pada peta, para peneliti khususnya mahasiswa, tidak terlalu mempedulikan arah utara apa yang sedang mereka gunakan.

“O o oo, maksudnya apaan ini? saya selalu memberikan keterangan arah utara kok pada setiap peta yang saya buat”, mungkin akan banyak sekali yang akan memberikan sanggahan seperti itu. Tunggu dulu! Tolong simpan dulu sanggahan itu untuk mencarikan solusi nanti di akhir tulisan ini. Penulis pun sebenarnya juga merasakan hal yang demikian.

Faktanya peta-peta yang selama ini buat oleh geologist mahasiswa – baik itu peta geomorfologi, peta kerangka geologi, peta pola jurus, dan peta geologi – hanya memiliki satu simbol utara yang arahnya pasti ke atas. Sementara pengambilan data hasil survey, seperti strike-dip, data kekar, dll , yang diukur menggunakan kompas geologi dimasukkan langsung sebagai data mentah ke dalam peta.

Terus apa salahnya kalau gitu doang mah?

Masalahnya, itu bukanlah hanya sekedar “gitu doang mah”. Referensi pada peta yang kita buat merupakan hasil ploting ulang peta RBI (Bakosurtanal) dengan arah utara grid atau arah utara sebenarnya. Sementara itu, referensi pada saat pengukuran data lapangan menggunakan kompas geologi, yang digunakan adalah arah utara magnetis bumi. Dan perlu diketahui, ternyata arah utara magnetis bumi ini selalu berubah-ubah setiap waktu, dengan perbedaan perubahannya yang berbeda-beda di setiap permukaan bumi. Nah, kira-kira apakah yang akan terjadi jika dua data dengan referensi berbeda dan sifat yang berbeda, yang satu statis dan yang lainnya dinamis, digabungkan menjadi satu dengan keterangan satu tanda panah menghadap ke atas yang diberi huruf U?

Penulis tidak tega mengatakan bahwa ini adalah sebuah kecacatan, walaupun memang begitulah kenyataannya. Namun kita pun juga harus berani untuk mengakuinya bahwa inilah kecacatan pemetaan kita selama ini, bagi yang mengerjakannya. Supaya tidak terjadi lagi di kemudian hari kesalahan dan ketidakpedulian kita terhadap arah utara. Dan ketika kenyataannya memang seperti demikian, maka penelitian atau pemetaan geologi yang dilakukan pun jadi tidak valid dan tidak dapat dipertanggungjawabkan untuk beberapa tahun kemudian. Apalagi pada penelitian yang sudah berusia puluhan tahun tanpa keterangan arah utara yang benar akan menjadi sesuatu yang “aneh”.

Jadi gimana ini selanjutnya?

Solusinya, pertama sebagai mahasiswa geologi, kita harus memiliki pengetahuan dan wawasan yang benar tentang arah utara. Bahwa ternyata arah utara itu ada tiga jenis, yaitu arah utara sebenarnya (True North), arah utara grid (Grid North), dan arah utara magnetik (Magnetis North). Ketiga jenis simbol arah utara ini, kalau kita peduli dan perhatian, maka dapat juga ditemukan di setiap peta RBI (Bakosurtanal) maupun peta geologi regional. Mari belajar lebih banyak lagi dari para pendahulu kita itu, orang-orang yang sudah lebih dahulu menjadi geologist.

Screenshoot penggunaan 3 arah utara pada lembar RBI Sukanagara
Screenshoot penggunaan 3 arah utara pada lembar RBI Sukanagara

Kedua, jika misalnya sudah terlanjur melakukan pengukuran data lapangan metode yang menganggap “semua utara itu sama saja”, maka sebaiknya pada laporan penelitian diberikan keterangan bahwa data yang diambil menggunakan referensi arah utara magnetis dengan sudut deklinasi magnetisnya sekian-sekian derajat pada tahun sekian. Mungkin dengan begitu pembaca atau peneliti selanjutnya pun bisa menjadikan hasil penelitian kita sebagai bahan referensi dan menggunakan datanya dengan lebih bijaksana.

Ketiga, melakukan normalisasi data hasil survey lapangan dengan acuan referensi  data yang statis. Dalam bahasa yang sederhana mengubah semua data pengukuran agar sesuai saat diplotting ke dalam peta. Sehingga penelitian pun bisa dipertanggungjawabkan kevalidannya di kemudian hari walau hanya menggunakan satu simbol utara di peta (Grid North).

Sebagai penutup, penulis hanya ingin berpesan kepada seluruh mahasiswa geologi Indonesia agar tidak berhenti belajar geologi. Salah satunya dengan mengkritisi hal-hal sederhana yang perlu dikritisi kemudian berbagi. Jika pada penjelasan kali ini ada sesuatu yang salah, silakan dikritisi kembali dengan kritik yang membangun. Jika ada yang kurang mohon pembaca bersedia menambahkan penjelasannya. Mari kita hidupkan suasana diskusi yang sehat demi kemajuan geologi sains, khususnya bagi geologist Indonesia. Oleh karena itulah localhost/bg2/ hadir untuk kita semua, karena kita di sini sama-sama mengagumi bumi, sama-sama belajar geologi sains, dan dengan itu semua sama-sama ingin menginspirasi dunia.

Mengagumi, Belajar, Menginspirasi.

belajar geologi, mari melanjutkan diskusi dikolom komentar di bawah ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here