Home Kelas Geologi Menelusuri Jejak Erupsi Bawah Laut di Semenanjung Oshoro

Menelusuri Jejak Erupsi Bawah Laut di Semenanjung Oshoro

88
0
SHARE

Mei lalu, saya berkesempatan untuk mengikuti sebuah ekskursi menarik ke Semenanjung Oshoro, di wilayah barat daya Hokkaido, Jepang. Ekskursi ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena gunungapi bawah laut yang terjadi di wilayah ini.

Semenanjung Oshoro terletak di wilayah barat daya Hokkaido. Dari Sapporo, semenanjung ini berjarak 45 km ke arah barat laut. Dalam ekskursi ini, perjalanan dibagi menjadi 3 pemberhentian utama yang pada akhirnya membentuk cerita tentang sejarah gunungapi bawah laut di wilayah ini.

Batuan yang banyak kita jumpai adalah hyaloclastite. Hyaloclastite sendiri adalah batuan yang terbentuk ketika magma tererupsi di dalam air. Batuan jenis ini biasanya mengandung butiran bertekstur gelas dan matriks yang didominasi oleh pecahan-pecahan gelas. Hal ini akibat pembekuan yang amat cepat ketika magma berinteraksi langsung dengan air begitu erupsi terjadi.

Pemberhentian pertama adalah Momoiwa. Momo (桃) berarti buah persik, sementara Iwa (岩) berarti batu. Di sini kita akan menemukan sebuah pulau kecil yang menyimpan informasi masa lalu tentang erupsi bawah laut di wilayah ini. Tidak banyak yang digali pada wiliayah ini, tetapi kita dapat melihat dua episode yang amat jelas yeng tersingkap di pulau kecil ini. Selain menyimpan informasi geologi berharga, pulau ini juga menjadi habitat berbagai macam burung yang sesekali tampak terbang dan berdiam diri di sini.

Momoiwa

(Mahasiswa sedang melakukan observasi di Momoiwa. Terlihat dua karkateristik berbeda antara bagian bawah dan bagian atas di pulau ini)

Selanjutnya adalah Tanjung Kabuto sebagai pemberhentian kedua. Pemberhentian ini yang menurut saya paling menarik karena banyak sekali fenomena gunungapi bawah laut yang dapat diamati. Yang pertama adalah berbagai singkapan lava bantal yang bentuknya sangat mirip dengan basalt yang ditemukan di dasar samudera, walaupun yang ditemukan di wilayah ini berkomposisi andesit.

Hal menarik kedua yang saya temukan di Tanjung Kabuto adalah retas (dyke) yang berkomposisi andesitis. Dyke di wilayah ini, jika merujuk istilah yang dikemukakan Yamagishi, adalah sejenis feeder-dyke yang menjadi penghubung magma di bawah dan yang tererupsi di bagian atas.

Feeder dyke ini tersebar secara paralel satu sama lain dengan arah timur laut-barat daya. Feeder dyke ini menerobos batuan aglomerat dan epiklastik yang terbentuk sebelumnya. Bahkan feeder dyke ini menerobos hingga batuan hyaloclastite di bagian paling atas yang pada saat itu berada bawah laut saat erupsi.

feeder dyke Kabuto

(salah satu singkapan feeder-dyke di Tanjung Kabuto)

Pemberhentian terakhir adalah Tanjung Moire. Di sini kami diajak untuk menggali misteri pembentukan lava berjenis riolitik. Walaupun belum banyak penelitian yang dapat secara komprehensif menjelaskan asal usul batuan ini, tapi kita mendapatkan banyak fenomena menarik di singkapan ini. Yang pertama kita dapat menemukan pecahan granit yang menjadi batuan luar (xenolith). Dan yang kedua adalah adanya lapis-lapis lava yang terbentuk seperti batuan sedimen. Hal ini menjadi indikasi adanya dua jenis magma yang tercampur sebelum akhirnya tererupsi.

Hal yang paling menarik bagi saya adalah, disekitar singkapan ini, dibangun pagar untuk melindungi singkapan ini. Selain itu, pagar ini juga mengirim pesan bahwa ada informasi berharga dari batuan yang ada di dalamya. Sehingga, batuan ini haru dilindungi dan dijaga untuk warisan generasi selanjutnya.

Riolit di Cape Moire

(singkapan lava riolitis di Tanjung Moire yang dikelilingi pagar)

dua magma

(salah satu tanda-tanda pencampuran magma?)

granit in riolit

(granit yang ditemukan sebagai xenolith di dalam lava riolitis ini)

Ekskursi berakhir di sore hari dan rombongan kembali ke Sapporo dengan membawa berbagai pertanyaan di dalam benaknya. Saya sendiri, selain bergumul dengan banyak tanya, juga sangat terpesona dengan kejadian yang membentuk wilayah ini. Selain itu, singkapan yang saya temui begitu segar Karena tingkat pelapukan yang relative rendah dibandingkan di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here