SHARE
960px-Celestia_mars
Manusia lebih memahami apa yang ada di permukaan Mars ketimbang apa yang ada di bawah kerak bumi (kredit gambar : NikoLang; Wikimedia Commons)


BBC dalam salah satu artikelnya pernah mengatakan kalau umat manusia lebih memahami apa yang ada di permukaan Mars ketimbang apa yang ada di dalam mantel bumi. Pernyataan ini ada benarnya juga, sejauh ini pemahaman geologi mengenai mantel bumi baru sebatas interpretasi.

Batas antara kerak bumi dan mantel dikenal sebagai moho atau secara lebih formal disebut mohorovicic discontinuity. Dinamakan berdasarkan nama penemunya Andrija Mohorovicic yang menemukan batas ini pada tahun 1909. Pada batas ini gelombang seismik berubah kecepatannya, dari sekitar 6,4 km/s di atas moho menjadi sekitar 8,2 km/s di bawah moho. Hal ini dipercaya akibat adanya perbedaan kerapatan batuan diantara keduanya sehingga dianggap sebagai batas antara kerak bumi dan mantel. Batas moho ini berbeda-beda di berbagai wilayah, semakin dalam pada lingkungan kontinen dan semakin dalam pada lingkungan laut.Selain dari batas moho itu, pemahaman kita tentang mantel juga masih sebatas pengukuran geofisika tidak langsung, belum ada yang benar-benar menyentuh mantel bumi.

Pengeboran terdalam dilakukan oleh Interdepartmental Scientific Council for the Study of the Earth’s Interior and Superdeep Drilling milik Uni Soviet. Proyek ini dilakukan di Semenanjung Kola dan dimulai tahun 1970 hingga 1994. Pengeboran ini berhasil menembus hingga kedalaman 12,262 km. Ini tercatat sebagai pengeboran terdalam yang pernah dilakukan manusia.

Namun, kedalaman 12 km ini juga masih jauh dibanding tebalnya kerak benua yang mencapai 35-55 km. Erik Klemetti memberikan analogi menarik mengenai pengeboran 12 km ini. Jangkauan 12 km itu baru menembus sekitar 0,19% jarak antara permukaan bumi hingga inti bumi. Sama saja menusukkan jarum sejauh 0,2 mm ke dalam kulit jeruk.

Amerika, sebelumnya pada tahun 1957, pernah melakukan proyek pengeboran dengan misi menjangkau mantel bumi. Proyek ini dinamai Proyek Mohole. Pengeboran dilakukan pada kerak lautan di Kepulauan Guadalupe (Timur Pasifik) yang ketebalannya hanya sekitar 7 km (tipis jika dibandingkan dengan tebalnya kerak benua). Proyek Mohole ini hanya berhasil menembus 182 meter dari total 7 km yang setidaknya dibutuhkan untuk menjangkau mantel bumi. Proyek ini terhenti akibat kurangnya pendanaan.

Harapan Baru

Namun usaha menjangkau mantel bumi tidak berhenti. Integrated Oceanic Drilling Project (IODP) kembali merencanakan proyek untuk melakukan pengeboran untuk menjangkau mantel bumi. Proyek ini melibatkan berbagai negara dengan dana mencapai satu milyar dolar amerika. Dengan dana sebesar ini, pengeboran akan dilakukan pada kerak samudra di daerah Kosta Rika atau Hawai’i. Peneletian juga dilakukan untuk menentukan lokasi yang tepat untuk mengebor termasuk membuka kembali lokasi pengeboran Proyek Mohole. Co-Leader dari Proyek ini, Dr. Damon Teagle, mengatakan bahwa pengeboran direncanakan dimulai tidak lebih dari tahun 2020.

Pengeboran ini akan dilakukan menggunakan kapal milik Jepang, Chikyu. Chikyu dapat membawa pipa bor dengan panjang hingga 10 km. Teknologi pengeborannya juga masih dikembangakan agar bisa bertahan pada suhu dan tekanan pada daerah sekitar mantel yang tentunya sangat berbeda dengan kondisi di permukaan.

Misi pengeboran mantel ini jika berhasil akan menjadi salah satu dobrakan penting dalam dunia sains. Ini akan membuka pemahaman geologi baru mengenai apa yang ada di bawah kaki kita yang selama ini masih menjadi misteri. Namun jangan dulu bayangkan misi pengeboran ini akan seheroik film “The Core” dimana manusia dapat menembus hingga inti bumi menggunakan kapal yang “mengapung-ngapung” dalam interior bumi. Bisa jadi mungkin tapi masih sangat jauh rasanya. (gaj)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here