Home Wawasan Energi dan Sumber Daya SPT yang TERCYDUCK

SPT yang TERCYDUCK

23
0
SHARE

Dalam Geologi Teknik dikenal uji atau tes di lapangan yang terdiri atas metode jenis penetrasi untuk mendapatkan langsung respon tanah dasar di bawah pengaruh berbagai pembebanan dan kondisi drainase, dsb. Salah satunya yaitu Uji SPT, yang merupakan singkatan dari Standard Penetration Test.

SPT (Standard penetration test) itu sendiri adalah uji yang dilaksanakan bersamaan dengan pengeboran untuk mengetahui baik perlawanan dinamik tanah maupun pengambilan contoh terganggu dengan teknik penumbukan. Uji SPT terdiri atas uji pemukulan tabung belah dinding tebal ke dalam tanah dan disertai pengukuran jumlah pukulan untuk memasukkan tabung belah sedalam 300 mm (1 ft) vertikal.

Nah, dalam tulisan kali ini, penulis tidak akan membahas panjang lebar tentang SPT, pengeboran atau Geologi teknik. Mudah-mudahan nanti ada sesi khusus dan waktu yang pas untuk membahas ini lebih dalam lagi. Gak apa-apa kan? Ga apa-apa dong. Hehe.

Dan karena judulnya adalah SPT yang TERCYDUCK (bahasa gaul anak kekinian), maka sebenarnya ini adalah sebuah sharing pengalaman penulis sebagai seorang wellsite geologist. Pada suatu hari yang siang terik, di kedalaman 70-an meter, seorang driller mulai memasuki lapisan batulempung setelah menembus lapisan breksi yang cukup tebal. Secara fisiografi masuk ke dalam zona bogor, kira-kira formasi apa ya? Haha.

Nah, salah satu syarat dilakukan tes SPT adalah adanya perubahan lithologi. Nah tuh kan pas banget tuh, maka dilakukanlah penumbukan atau Uji SPT pada lapisan batulempung. Jika melihat litologinya yang memang lunak, plastis, dan basah pada saat pengambilan core, maka wajar saja sih kalau nilai SPT-nya (N2 dan N3) 50/20. Itu artinya 50 kali tumbukan, masuknya 20 cm. Namun kejadian esok harinyalah yang membuat SPT ini jadi TERCYDUCK. Apakah yang terjadi sebenarnya? Keep reading ya guys, kalau gak bosan. Haha.

Keesokan harinya investor bersama rombongan enginernya melakukan pengecekan ke lokasi pengeboran. Dan mereka melihat sesuatu, pemandangan yang aneh menurut pandangan mata mereka. Pandangan itu tertuju pada SPT yang sangat #mncrgknskl.
Kenapa sampel SPT yg sudah dibungkus plastik ini sangat berbeda dengan sample core lainnya yang ada di dalam box? Padahal dia berada pada lapisan dan litologi yang sama. Oh noo. Dan oleh karena itu, dicurigailah bahwa SPT itu palsu, SPT adobsi bukan SPT kandung. Penipuan SPT yang membuatnya jadi TERCYDUCK, HALU, dan KRIK. *bahasa apa ini? Wkwk*

Ini penampakan SPT yang Tercyduk, dikeluarkan paksa dari plastiknya dan dihancur-hancurkan. Kasian. Hiks.
Ini penampakan SPT yang Tercyduk, dikeluarkan paksa dari plastiknya dan dihancur-hancurkan. Kasian. Hiks.

Emangnya kenapa sih? Masih belum ngerti nih.

Jika kamu bukan seorang geologist, mungkin tidak mudah untuk memahami fenomena ini. Coba bayangkan, bagaimana bisa ini terjadi? Coba, sampel SPT yang dibungkus dengan plastik SPT adalah batulempung, warna abu-abu, lembab, firm, dan sedikit plastis. Sedangkan sample core yang di dalam box adalah batulempung, warna abu-abu, agak sedikit lembab sampai kering, very stiff, dan tidak ada sifat plastisnya.

WHY?? Kenapa aku berbeda Bunda? 😅

 

Nah, Sekarang penulis ingin mengajak teman-teman, mari kita review kembali pelajaran kuliah kita tentang mineral lempung. Bahwasanya batulempung itu mengandung mineral lempung yang mempunyai sifat swealing (dapat mengembang dan menyusut). Dimana mineral lempung tersebut bisa menyerap dan menyimpan air sampai dua kali masa tubuhnya dalam keadaan jenuh air. Dan sebaliknya dalam keadaan kering, ia juga bisa jadi benar-benar kering. Mungkin dengan alasan ini cukup tepat jika digunakan untuk menjelaskan fenomena SPT yg TERCYDUCK tersebut. Mineral utama tanah bisa kembang susut begitu biasanya adalah Montmorilonite, Illite, dan Kaolinite. Hayoo belajar lagi.

Nah, dari studi kasus SPT yang Tercyduk di atas, dapat disimpulnya bahwa SPT tersebut sebenarnya tidak bersalah, karena kedua-duanya benar (SPT maupun core). Mungkin kita tidak bisa mengubah keadaan, namun kita bisa mengubah cara pandang kita dalam melihat suatu keadaan tersebut. SPT yang dibungkus plastik mempunyai karakteristik deskriptif yang berbeda dengan sample core karena ada pengaruh yang tidak sama telah terjadi pada keduanya, baik itu pengaruh lingkungan, suhu, kehilangan kelembaban, dll. Sample SPT masih mempertahankan karakteristiknya sesaat setelah dilakukan tes, karena dimasukkan/ dibungkus dalam plastik. Sementara sample core dibiarkan begitu saja. Sehingga terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Who knows?!

Nah, begitulah ceritanya. Semoga paham ya. Haha. Sengaja tulisan ini ditulis bebas tanpa menyebutkan sumber ilmiahnya agar bisa dinikmati sambil makan kacang atau minum susu. Jika penyampaiannya tidak sempurna, wajar saja agar nanti bisa dikoreksi lagi oleh pembaca. Jika ada yg perlu dikomentari atau didiskusikan silakan langsung saja tuliskan di kolom komentar ya. Semoga ada manfaatnya.

Terimakasih atas perhatiannya. Sama-sama. 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here