Home Kolumnis Tujuh Orang Dipenjara Karena Gempabumi : Salah Siapa? (Bag. 1)

Tujuh Orang Dipenjara Karena Gempabumi : Salah Siapa? (Bag. 1)

28
0
SHARE
640px-L'Aquila_eathquake_prefettura
(kredit : TheWiz83; sumber : commons.wikimedia.org)

Enam Ilmuwan dan Satu Petugas Pemerintah Dipenjara Karena Gempa Bumi

Ada kasus menarik di Italia pada tahun 2012 lalu. Enam orang ilmuwan dan satu petugas pemerintah dari Italia dipenjara terkait gempa bumi magnitudo 6,3 di L’Aquila pada tahun 2009. Tujuh orang ini didakwa 6 tahun penjara pada 22 Oktober 2012. Ketujuh orang itu adalah Franco Berberi, Enzo Boschi, Guilio Lorenzo Selvaggi, Gian Michele Calvi, Bernardo De Bernardinis, Mauro Dolce, dan Claudio Eva.

Mereka didakwa karena dianggap mengeluarkan pernyataan yang menyebabkan 29 orang wafat karena tetap berada di gedung ketika gempa terjadi. Gempa L’Aqulia pada 2009 itu sendiri menelan lebih dari 300 korban jiwa.

Kasus ini menarik perhatian dunia terutama kalangan ilmuwan. Bahkan ahli seismologi dari berbagai belahan dunia membuat petisi untuk kebebasan tujuh orang ini.

Alan I. Leshner, CEO dari American Association for the Advancement of Science (AAAS), mengirim surat pada Presiden Italia, “Penelitian bertahun-tahun, kebanyakannya dilakukan oleh ahli seismologi terkemuka dari negara anda, telah menunjukkan bahwa tidak ada metode ilmiah yang diterima untuk prediksi gempabumi yang bisa diandalkan untuk mengingatkan warga akan bencana (gempabumi) yang akan datang.”

Ya, belum ada, setidaknya sampai sekarang, cara memprediksi gempa yang secara akurat dapat menunjukkan kapan secara pasti gempabumi akan terjadi. Kenyataan ini tidak membuat tujuh orang tadi terbebas dari hukuman enjara. Lalu apa yang  sebenarnya terjadi?

advertisement

Persepsi Publik L’Aquila

Cerita berawal ketika L’Aqulia dilanda gempa-gempa kecil yang dikenal sebagai Seismic Swarn. Kemudian seorang peneliti gempa amatir bernama Giampalo Guilani telah memprediksi akan adanya gempa besar mengikuti gempa-gempa kecil ini.

Prediksi ini membuat kepanikan pada warga L’Aquila hingga akhirnya sekelompok ahli dikumpulkan oleh otoritas setempat untuk mengadakan pertemuan. Pertemuan ini dimaksudkan untuk meneliti tanda-tanda dan juga saran untuk pemerintah Italia.

Pertemuan yang berlangsung pada 31 Maret 2009 ini dihadiri ahli yang tersebut namanya di atas. Setelah pertemuan yang kabarnya singkat ini, sebuah stasiun televisi menampilkan wawancara terhadap Bernardo De Bernardinis. Bernardinis adalah seorang petugas pemerintah dan juga seorang ahli hidrologi.

Bernardinis mengatakan dalam wawancara, “komunitas ilmiah mengatakan pada saya bahwa tidak ada bahaya karena ada proses pelepasan energi yang sedang berlangsung”.

Ada dua hal yang perlu digarisbawahi terkait pernyataan Bernardinis ini. Yang pertama adalah mengenai kebenaran isinya dan yang kedua terkait kapan wawancara itu dilakukan.

Arielle Duhaime-Ross, dalam artikelnya di theverge.com, pernyataan De Bernardinis itu salah. Tremor-tremor yang terjadi sebenarnya tidak melepaskan energi yang memiliki efek kebalikan terhadap gempabumi.

Kemudian, dan ini yang paling menarik, adalah kenyataan bahwa wawancara dilakukan sebelum pertemuan berlangsung. Namun ditayangkan setelah penemuan berlangsung. Hal ini menjadi fatal karena publik L’Aquila salah mempersepsikan pernyataan De Bernardinis sebagai representasi hasil pertemuan.

Setelah gempa dengan yang menewaskan lebih dari 300 orang itu terjadi, penduduk L’Aqulia marah dan menyalah ilmuwan yang telibat dalam pertemuan 31 Maret. Publik menganggap para ilmuwan ini gagal dalam menyelidiki bahaya yang mengancam warga L’Aquila.

Kemarahan ini berujung pada didakwanya tujuh orang termasuk De Bernardinis karena dianggap menyebabkan 29 orang memilih diam di rumah dan tewas pada saat gempa terjadi.  Pada 2012 ketujuh orang ini dijatuhi hukuman enam tahun penjara karena tuduhan menyebabkan kematian.


 

*akan berlanjut ke bagian kedua

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here