SHARE

Foto: Anak Krakatau by Annamaria Luongo (Wikimedia Commons | CC BY 2.0)

Pemandangan ini diambil dari citra satelit Sentinel-2 pada bulan April tahun 2019 oleh Annamaria Luongo. Foto ini menunjukkan komplek Krakatau dan kondisi Anak Krakatau setelah mengalami keruntuhan.

Foto: Anak Krakatau Nature Reserve by Sentinel Hub (Wikimedia Commons | CC BY 2.0)

Anak Krakatau, setelah letusan tahun 1883, aktivitas magmatik di kawasan Krakatau tidak berhenti. Dari dasar laut, magma tetap diproduksi dan menerobos kerak bumi hingga mencapai dasar lautan. Perlahan-lahan magma ini tumbuh dan membangun tubuh gunung api bawah laut. Hingga pada tahun 1928, tubuh gunung api ini menunjukkan eksistensinya di lautan Selat Sunda. Pada akhirnya, pulau keempat bernama Anak Krakatau muncul ke permukaan air pada Agustus 1930.

Pada tahun 2018 tepatnya di bulan Desember, terjadi keruntuhan pada sebagian tubuh anak krakatau yang disebabkan oleh hilangnya tubuh gunung secara tiba-tiba yang kemudian menyebabkan sistem magmatik yang menjadi tidak stabil sesaat setelah longsoran berlangsung dan memicu letusan besar. Longsoran ini juga mengakibatkan sistem magma kehilangan tekanan sehingga erupsi yang terjadi setelah adanya keruntuhan tersebut memuntahkan material vulkanik yang mengubur bekas longsoran.

Selain itu, longsoran ini juga menyebabkan tsunami dengan ketinggian ombak sekitar 80m di sekitar gunung Anak Krakatau (beberapa pantai barat Banten dan selatan Lampung). Tsunami ini menelan sekitar 400 korban jiwa. Aktivitas erupsi setelah longsor besar tetap berlangsung dengan frekuensi tinggi tetapi tipe erupsi tidak lagi tipe stromboli melainkan tipe Surtsey, yaitu bercampurnya magma dengan air laut.

Foto: Anak Krakatau by Annamaria Luongo (Wikimedia Commons | CC BY 2.0)

Pengamatan visual dan perkiraan berdasarkan citra satelit pada tahun 2019 menunjukkan adanya perubahan morfologi besar dan pada gambar citra yang ditampilkan terlihat bahwa pada bagian barat gunung Anak Krakatau kehilangan lebih dari 50% massanya. Ketinggian puncak Gunung Anak Krakatau tinggal 110m dari muka air laut dengan ketinggian baru ini Pulau Anak Krakatau memiliki puncak tertinggi yang lebih rendah dibandingkan dengan pulau-pulau tetangganya (Pulau Sertung 182 mdpl dan Pulau Panjang 132 mdpl).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.