SHARE

Anak Krakatau yang muncul pertama kali di Selat Sunda pada tahun 1927 terus mengalami pertumbuhan. Di bulan Desember 2018, Anak Krakatau terus menunjukkan aktifitas yang sejak beberapa bulan sebelumnya telah terjadi. Namun, pada 22 Desember 2018 puncak aktifitas vulkanik ini ditandai dengan runtuhnya tubuh bagian barat-baratdaya sang gunung.

Runtuhnya sebagian tubuh ini menjadikan kantung-kantung magma terbuka dan mengalami penurunan tekanan yang tiba-tiba sehingga memicu terjadi erupsi. Runtuhan tubuhnya juga menjadi sebab terjadinya tsunami di Selat Sunda kala itu.

Citra satelit di bawah ini menangkap saat-saat terakhir Anak Krakatau sebelum runtuh pada desember 2018 tersebut.

Citra di atas adalah citra dari Satelit Sentinel-2 yang diolah oleh Pierre Markuse yang menunjukkan Anak Krakatau yang sedang aktif mengeluarkan abu vulkanik berwarna kecokelatan dan juga uap panas dari kawahnya. Masih tampak morfologi Anak Krakatau yang tersusun atas tubuh lebih tua yang diselimuti vegetasi hijau yang ditimpali dengan endapan lava berwarna abu-abu gelap di atasnya.

Citra berikut di atas adalah citra dari satelit Landsat 8 yang merekam aktifitas Anak Krakatau pada tanggal 20 Desember 2018, dua hari sebelum sang gunung runtuh. Tampak pada citra tersebut tubuh Anak Krakatau masih utuh sembari mengeluarkan uap panas dari kawahnya.


Pasca Desember 2018

Walaupun sebagian tubuhnya telah runtuh, aktifitas magmatik Anak Krakatau tidak berhenti. Pasokan magma terus berlangsung. Di awal-awal pasca keruntuhan, kawah masih berada di bawah permukaan laut. Akibatnya, magma yang keluar dari kawah berinteraksi langsung dengan air laut dan terjadilah erupsi freatomagmatik selama beberapa waktu.

Seperti tampak pada gambar di bawah ini. Hal ini seperti sebuah reset bagi Anak Krakatau dimana pertumbuhannya dimulai kembali. Kawah tempat keluarnya material vulkanik yang bundar nyaris sempurna tampak jelas dari citra dengan dikelilingi tubuhnya yang berwarna abu-abu gelap.

Erupsi besar di desember lalu juga melontarkan material piroklastik yang menutupi tubuh bagian timur sang gunung dan pulau Krakatau kecil yang ada di timur. Ini menyebabkan tubuh Anak Krakatau dan Krakatau Kecil tertimbun abu vulkanik berwarna abu-abu gelap. 

Aktifitas vulkaniknya pun tidak pernah berhenti dan terus menampakkan eksistensinya. Tampak pada Bulan April 2019 pada citra di atas Anak Krakatau sedang mengeluarkan uap panas yang kemungkinan terjadi akibat erupsi freatik. Erupsi semacam ini terjadi ketika air yang menjadi bagian dari sistem hidrologi pada Anak Krakatau dipanaskan oleh magma dan mendidih kemudian keluar sebagai uap panas. 

Erupsi Anak Krakatau tidak hanya terjadi secara eksplosif yang melontarkan material abu vulkanik dan material vulkanik lainnya ke udara tetapi juga terjadi secara efusif yang produk utamanya adalah aliran lava. Tampak pada citra di bawah ini aliran lava keluar dari kawah sang gunung ke sisi barat-baratdaya.

Fenomena ini adalah fenomena yang juga pernah terjadi sebelum keruntuhan di 2018. Hal ini juga menjadi proses alami dan normal bagi gunung api untuk membangun tubuhnya.

Uniknya di Anak Krakatau kita dapat melihat perkembangan ini dari waktu ke waktu sebagai sebuah pembelajaran tentang bagaimana sebuah pulau vulkani terbentuk.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.