SHARE
Ilustrasi diambil dari buku Krakatoa karya Simon Winchester, 2003.

Pada sekitar pukul enam sore di tanggal 27 Agustus 1883, Kapal Perang Belanda bernama Berouw, berlayar di Selat Sunda dengan kondisi ombak yang besar. Seisi kapal terancam tidak dapat berlabuh.

Sekitar lima jam kemudian, dari pantai, seorang syahbandar Telok Betong (Teluk Betung) melihat kapal Berouw dalam keadaan terombang-ambing di kegelapan yang menyelimuti.

Seluruh awak kapal khawatir bahwa ombak tersebut tidak hanya merusak tali tambat, tetapi juga akan merusak rantai besar yang tersambung pada pelampung baja yang berbentuk kerucut.

Keesokan paginya pada pukul 07.45, malapetaka menimpa mereka. Kapal Berouw terlepas dari pelampung yang menahannya.

Kapal tersebut terombang-ambing dan terbawa sejauh seperempat mil ke arah barat hingga terdampar di muara Sungai Koeripan. Seluruh awak kapal tewas akibat kejadian tersebut.

Akan tetapi, semuanya belum berakhir. Pada pukul 11.03, sebuah ombak besar kembali menghantam kapal tersebut dan membawanya lagi sejauh dua mil ke arah barat di sepanjang Sungai Koeripan. Kapal Berouw terdampar sekali lagi.

Kedua ujung kapal menyangkut pada kedua tepi sungai sehingga badan kapal tersebut membentuk seperti jembatan.

Kapal Berouw ditemukan beberapa bulan kemudian oleh tim penyelamat dalam keadaan hampir utuh, hanya beberapa bagian saja yang mengalami kerusakan dan bengkok. Ruang mesin dipenuhi oleh lumpur dan debu. Mesin tidak mengalami kerusakan yang parah, dan roda dayung bengkok akibat guncangan.

Sekarang, sisa-sisa dari Kapal Berouw banyak disimpan oleh warga sekitar dan lokasinya telah dibangun jembatan penyeberangan kendaraan dan orang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.