Home Wawasan Geotravel Kawah Ijen : Keindahan yang Menyimpan Bahaya

Kawah Ijen : Keindahan yang Menyimpan Bahaya

637
0
SHARE

Oleh : Fathidliyaul Haq

kawah ijen
Kawah Ijen (Sumber : banyuwangbagus.com)

Siapa yang tak mengenali keindahan Kawah Gunung Ijen. Gunung yang telah ditetapkan sebagi cagar budaya Biosfir oleh UNESCO ini memberikan pemandangan yang sangat mempesona. Kawah yang terisi air berwarna hijau kebiru-biruan ini menyerupai sebuah danau diatas gunung. Kawah ini kerap dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun internasional untuk menyaksikan keindahan alamnya. Fenomena yang paling khas dan diburu oleh wisatawan di Gunung Ijen adalah kenampakan api/cahaya berwana biru (blue fire/blue light) yang hanya bisa dilihat dini hari sebelum fajar memancarkan sinarnya, sehingga membuat wisatawan harus rela memnaiki Gunung Ijen pagi-pagi buta, namun semua kelelahan terbayar lunas dengan pemandangan yang elok bak surga dunia.

bluefire
Blue light / Blue Fire (Sumber : banyuwangbagus.com)

Gunung Ijen adalah gunungapi aktif berjenis stratovolcano yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten BondowosoJawa TimurIndonesia. Gunung ini memiliki ketinggian 2.443 mdpl dengan koordinat 8,058°LS 114,242°BT.

lokasi ijen
Lokasi Gunung Ijen (Sumber : google earth)

Berdasarkan rekonstruksi hasil peta geologi, pada awalnya Ijen mencapai lebih dari 3.000 meter tingginya (Sujanto, dkk, 1988). Gunung besar itu kemudian mengalami letusan  dahsyat (violent eruption) yang dilaluinya dalam tiga periode yang diperkirakan terjadi pada 3.500 tahun yang lampau. Letusan tersebut menghancurkan hampir seluruh tubuhnya hingga tingginya terpangkas menjadi 2.386 meter. Selain itu letusan tersebut menghasilkan lubang yang sangat besar 19 x 21 km  di bagian  alasnya dan 22 x 25 km pada bagian atasnya (rim crater) kemudian dikenal dengan Kaldera Ijen. (H. Sundoro, 1990).

jawatimur_ijen
Sumber : https://rovicky.files.wordpress.com/2012/01/jawatimur_ijen.jpg

Dalam perkembangan berikutnya, di tengah kaldera terbentuk sebuah danau kawah yang menjadi pusat kegiatan vulkanik saat ini. Kawah tersebut berukuran 1.160 x 1.160 m bagian atas dan bagian yang terisi air yang telah mengalami mineralisasi volkanik di dasar kawah seluas 960 x 600 m yang dikenal dengan nama Kawah Ijen. Danau ini diperkirakan adalah salah satu danau kawah yang paling asam di dunia. Kadar keasaman (pH) airnya dapat mencapai nilai nol (tidak terukur) hingga 0,8. Nilai tersebut bervariasi tergantung kondisi musim. Air kawahnya yang sangat asam (acid water) dapat menimbulkan pencemaran lingkungan yang berbahaya bagi kehidupan sekitarnya.

Salah satu hasil gunungapi yang ditemu di Kawah Ijen adalah belerang. Di tepi danau Kawah Ijen terdapat solfatara permanen yang mampu menghasilkan belerang murni lebih dari 60 ton per hari. Namun dengan penambangan konvensional, masyarakat disekitar Gunung Ijen hanya mampu mengangkut belerang antara 14 – 19 ton per hari. Mereka menambang dengan cara yang sangat sederhana, hanya berbekal linggis dan sekop tanpa alat pelindung di tengah sengatan gas belerang yang sangat tajam.

kawahijen
Sumber : https://rovicky.files.wordpress.com/2012/01/kawahijen.jpg

Penambang menggunakan cara yang sangat sederhana untuk “menangkap” Gas belerang (H2SO4) yang memiliki suhu antara 150° – 250° C. Mereka memasang pipa yang terbuat dari besi (pawon) berdiameter 16 – 20 cm. Setiap pipa panjangnya 1 m agar mudah memasang dan menggantinya jika rusak. Pipa tersebut dipasang sambung menyambung mulai dari tebing atas dimana titik solfatara yang suhunya mencapai 200° C sekaligus sebagai sumber belerang hingga dasar tebing yang jauhnya antara 50 – 150 m. Melalui pipa tersebut gas belerang dialirkan kemudian tersublimasi di ujung pipa bagian bawah dan siap ditambang dalam bentuk bongkah belerang. Apabila salah satu pipa rusak karena korosi, maka uap belerang tidak mengalir sempurna dan terlepas ke udara bebas dan tidak sempat tersublimasi. Kendala lainnya adalah ketika suhu solfatara naik melampaui 200° C, maka uap belerang tidak sempat tersublimasi karena terbakar.

Dalam perspektif kemanusiaan, Gunung Ijen menjadi saksi bisu atas perjuangan penambang belerang yang bertaruh nyawa untuk mengais rupiah yang tak seberapa. Menambang belerang bukanlah pekerjaan yang mudah. Selain menghadapi medan yang sulit, tidak ada jaminan keselamatan bagi para penambang. Bagi orang awam berdiri beberapa menit di lokasi sublimasi belerang akan merasakan pusing dan mual. Para penambang yang harus bekerja beberapa jam lamanya setiap hari tanpa masker pelindung atau semacamnya adalah suatu pilihan yang dilematis. Disatu sisi, mereka merasakan adanya penurunan kesehatan dalam menambang belerang, namun disisi lain, kondisi ekonomi yang sulit membuat mereka memilih untuk bekerja pada kondisi berbahaya tersebut utuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Berdasarkan data tim BBC sekitar tahun 2011, kadar asap beracun di sekitar Kawah Ijen yang mencapai lebih dari 40 kali dari batas aman untuk pernapasan di Inggris dan selama 40 tahun terakhir, lebih dari 70 orang tewas di Ijen. Selain itu, beberapa kasus pendaki gunung Ijen meninggal dunia akibat mengirup gas beracun.

Hal ini menjadi kesadaran kita bersama bahwa dibalik keindahannya, Gunung Ijen menyimpan cerita lain tentang bahaya gas beracun yang dikeluarkannya. Pemerintah ataupun stakeholder terkait perlu memberikan perhatian dan penjagaan lebih terhadap keselamatan dan kesehatan wisatawan dan khususnya penambang belerang, yang paling terdampak dari  bahaya Gunung Ijen.

 

Referensi :

http://geomagz.geologi.esdm.go.id/ijen-menyesap-pesona-mewaspadai-bahaya/

https://rovicky.wordpress.com/2012/01/09/mengenal-kawah-gunung-ijen-yg-terisi-air-aki/

http://www.eastjava.com/books/ijen/ina/general_condition.html

http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/gunungapi/data-dasar-gunungapi/522-g-ijen?start=2

http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/05/160521_majalah_penambang_kawah_ijen

http://www2.esdm.go.id/berita/56-artikel/3509-kawah-ijen-penghasil-belerang-terbesar.html

www.banyuwangibagus.com

SHARE
Previous articleApa sih Oblique Subduction?
Next articleDi Balik Bencana Banjir Dieng
Tulisan dari kontributor tamu | Isi tulisan sepenuhnya tanggung jawab penulis | Ingin tulisan dimuat di belajargeologi.com? Kirim ke info.belajargeologi@gmail.com | Mengagumi, Belajar, & Menginspirasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here